JUMLAH RAKAAT SHALAT TARAWIH MENURUT ULAMA SALAF
Shalat
Tarawih bagi umat Islam Indonesia sudah tidak asing lagi. Hampir setiap muslim
pernah menjalankannya. Pada awa lRamadhan, biasanya masjid atau mushala penuh
dengan kaum muslimin danmuslimat yang menjalankan shalat jama’ah isya’
sekaligus tarawih. Adayang menjalankan 8 rakaat, dan ada yang 20 rakaat, Sedang
shalat Witir yang diletakkan di akhir biasanya sarna-sarna 3 rakaat.
Shalat
Tarawih hukumnya sangat disunnahkan (sunnah muakkadah), lebih utama berjama’ah.
Demikian pendapat masyhur yang disampaikann oleh para sahabat dan ulama.
Ada
beberapa pendapat tentang raka’at shalat Tarawih; ada pendapat yangmengatakan
bahwa shalat tarawih ini tidak ada batasan bilangannya,yaitu boleh dikerjakan
dengan 20 (dua puluh) raka’at, 8 (delapan), atau36 (tiga puluh enam) raka’at;
ada pula yang mengatakan 8 raka’at; 20raka’at; dan ada pula yang mengatakan 36
raka’at.
Pangkal
perbedaan awal dalam masalah jumlah raka’at shalat Tarawihadalah pada sebuah
pertanyaan mendasar. Yaitu apakah shalat Tarawih itu sama dengan shalat malam
atau keduanya adalah jenis shalatsendiri-sendiri? Mereka yang menganggap
keduanya adalah sama, biasanyaakan mengatakan bahwa jumlah bilangan shalat
Tawarih dan Witir itu 11 raka’at.
Adapun orang yang melakukan salat
tarawih 8 (delapan) rakaat denganwitir 3 (tiga) rakaat, adalah mengikuti hadits
yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah yang berbunyi sebagai berikut:
َما كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزِيْدُ فِى رَمَضَــــانَ وَلاَ فِى غَــيْرِهِ
عَلَى إِحْدَى عَشَرَةَ رََكْعَةً ، يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْـاَلْ عَنْ
حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْــاَلْ عَنْ
حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَــلِّى ثَلاَثًا ، فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ
اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ اَنْ تُوْتِرَ ؟ فَقَالَ : يَا عَائِشَةُ إِنَّ
عَيْنَيَّ تَنَامُ وَلاَ يَـــــنَامُ قَلْبِى . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
“Tiadalah Rasulullah saw. menambah
pada bulan Ramadlan dan tidak pula pada bulan lainnya atas sebelas rakaat.
Beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang kebagusan dan
panjangnya. Kemudian beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang
kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau salat tiga rakaat. Kemudian aku
(Aisyah) bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah Tuan tidur sebelum salat witir?”
Beliau bersabda, “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, sedang hatiku
tidak tidur.” (HR.Bukhari)
Syekh
Muhammad bin ‘Allan dalam kitab “Dalilul Falihin” jilid III halaman 659
menerangkan bahwa hadits di atas adalah hadits tentang salat witir, karena
salat witir itu paling banyak hanya sebelas rakaat, tidak boleh lebih. Hal itu
terlihat dari ucapan Aisyah bahwa Nabi saw. tidak menambah salat, baik pada
bulan Ramadlan atau lainnya melebihi sebelas rakaat. Sedangkan salat tarawih
atau “qiyamu Ramadlan” hanya ada pada bulan Ramadlan saja.
Ucapan
Aisyah “beliau salat empat rakaat dan Anda jangan bertanya tentang kebagusan
dan panjangnya“, tidaklah berarti bahwa beliau melakukan salat empat rakaat
dengan satu kali salam. Sebab dalam hadits yang disepakati kesahihannya oleh
Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra. Nabi bersabda:
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا
خِفْتَ الصُّبْحَ فَاَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ
.
“Salat malam itu (dilakukan) dua
rakaat dua rakaat, dan jika kamu khawatir akan subuh, salatlah witir satu
rakaat”.
Dalam hadits lain yang disepakati
kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim, Ibnu Umar juga berkata :
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى وَ يُوْتِرُ
بِرَكْعَةٍ.
“Adalah Nabi saw. melakukan salat
dari waktu malam dua rakaat dua rakaat, dan melakukan witir dengan satu rakaat”.
Pada
masa Rasulullah saw. dan masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, salat
tarawih dilaksanakan pada waktu tengah malam, namanya bukan salat tarawih,
melainkan “qiyamu Ramadlan” (salat pada malam bulan Ramadlan). Nama “tarawih”
diambil dari arti “istirahat” yang dilakukan setelah melakukan salat empat
rakaat. Disamping itu perlu diketahui, bahwa pelaksanaan salat tarawih di
Masjid al-Haram, Makkah adalah 20 rakaat dengan dua rakaat satu salam.
Lalu
Umar bin ‘Abdul Aziz menambah raka’at shalat Tarawih menjadi 36raka’at bagi
orang di luar kota Makkah agar menyamahi pahala Tarawihahli makkah; Atau shalat
Tarawih 20 raka’at dan Witir 3 raka’at menjadi23 raka’at. Sebab 11 rakaat itu
adalah jumlah bilangan rakaat shalatmalamnya Rasulullah saw bersama sahabat dan
setelah itu Beliaumenyempurnakan shalat malam di rumahnya. Sebagaimana Hadits
Nabi SAW.:
أَنَّهُ صلّى الله عليه وسلّم
خَرَجَمِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ لَيَالِيْ مِنْ رَمَضَانَ وَهِيَ
ثَلاَثُمُتَفَرِّّقَةٍ: لَيْلَةُ الثَالِثِ, وَالخَامِسِ, وَالسَّابِعِوَالعِشْرِيْنَ,
وَصَلَّى فِيْ المَسْجِدِ, وَصَلَّّى النَّاسُبِصَلاَتِهِ فِيْهَا, وَكَانَ
يُصَلِّّْي بِهِمْ ثَمَانِ رَكَعَاتٍ,وَيُكَمِّلُوْنَ بَاقِيْهَا فِيْ
بُيُوْتِهِمْ. رواه الشيخان
“Rasulullah SAW keluar untuk shalat
malam di bulan Ramadlansebanyak tiga tahap: malam ketiga, kelima dan kedua
puluh tujuh untukshalat bersama umat di masjid, Rasulullah saw. shalat delapan
raka’at,dan kemudian mereka menyempurnakan sisa shalatnya di rumah
masing-masing. (HR Bukhari dan Muslim).
Para
imam madzhab telah menetapkan kesunnahan salat tarawih berdasarkan perbuatan
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam Imam Bukhari dan Muslim telah
meriwayatkan hadits sebagai berikut:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ لَيَالِيَ مِنْ رَمَضَانَ وَهِيَ
ثَلاَثٌ مُتَفَرِّقَةٌ لَيْلَةُ الثَّالِثِ وَالْخَامِسِ وَالسّابِعِ
وَالْعِشْرِيْنَ وَصَلَّى فِى الْمَسْجِدِ وَصَلَّى النَّاسُ بِصَلاَتِهِ فِيْهَا
، وَكَانَ يُصَلِّى بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ أَيْ بِأَرْبَعِ تَسْلِيْمَاتٍ كَمَا
سَيَأْتِى وَيُكَمِّلُوْنَ بَاقِيَهَا فِى بُيُوْتِــــهِمْ أَيْ حَتَّى
تَتِــــمَّ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً لِمَا يَأْتِى ، فَكَانَ يُسْمَعُ لَهُمْ
أَزِيْزٌ كَأَزِيْزِ النَّحْلِ .
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam
keluar pada waktu tengah malam pada bulan Ramadlan, yaitu pada tiga malam yang
terpisah: malam tanggal 23, 25, dan 27. Beliau salat di masjid dan orang-orang
salat seperti salat beliau di masjid. Beliau salat dengan mereka delapan
rakaat, artinya dengan empat kali salam sebagaimana keterangan mendatang, dan mereka
menyempurnakan salat tersebut di rumah-rumah mereka, artinya sehingga salat
tersebut sempurna 20 rakaat menurut keterangan mendatang. Dari mereka itu
terdengar suara seperti suara lebah”.
Sahabat
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwaRasulullah SAW shalat Tarawih di bulan Ramadhan
sendirian sebanyak 20 Rakaat ditambah Witir. (HR Baihaqi dan Thabrani)
.
Ibnu
Hajar menyatakan bahwa Rasulullah shalatbersama kaum muslimin sebanyak 20
rakaat di malam Ramadhan. Ketiga tibadi malam ketiga, orang-orang berkumpul,
namun rasulullah tidak keluar.Kemudian paginya beliau bersabda:
خَشِيْتُ أَنْ تَفَرَّضَ عَلَيْكُمْ
فَلَا تُطِيْقُونَهَا
“Aku takut kalau-kalau tarawih
diwajibkan atas kalian, kalian tidak akan mampu melaksanakannya.”
Hadits
ini disepakati kesahihannya dan tanpamengesampingkan hadits lain yang
diriwayatkan Aisyah yang tidakmenyebutkan rakaatnya. (Dalam hamîsy Muhibah, Juz
II, hlm.466-467)
SHOLAT TARAWIH PADA MASA KHOLIFAH UMAR BIN KHATTAB
Disebutkan dalam kitab Sahih Bukhari
:
“Dari Abdurrahman bin Abdul Qarai,
beliau berkata : Saya keluar bersama Sayidina ‘Umar bin Khathab (Khalifah) pada
suatu malam bulan Ramadhan pergi ke mesjid (Medinah). Didapati dalam mesjid
orang-orang shalat tara-wih berpisah-pisah. Ada orang yang sembahyang sendirisendiri,
ada orang yang shalat dan ada beberapa orang di belakangnya, maka Sayidina
Umar berkata : Saya berpendapat akan mempersatukan orang-orang ini. Kalau
disatukan dengan seorang Imam sesungguhnya lebih baik, lebih serupa dengan
shalat Rasulullah. Maka dipersatukan orang-orang itu shalat di belakang seorang
Imam namanya Ubal bin Ka’ab. Kemudian pada satu malam kami datang lagi ke
mesjid, lantas kami melihat orang-orang shalat bersama-sama di belakang seorang
Imam. Sayidina Umar berkata : Ini adalah bid’ah yang baik.” (H. Riwayat Imam
Bukhari, lihat Sahih Bukhari I, halaman 241 – 242).
Abdurrahman
bin Abdul Qarai yang meriwayatkan perbuatan Sayidina Umar ini adalah seorang
Tabi’in yang lahir ketika Nabi masih hidup. Beliau adalah murid Sayidina Umar
bin Khathab, wafat tahun 81 H. dalam usia 78 tahun. Nampak dalam hadits ini bahwa
Khalifah yang kedua Umar bin Khathab memerintahkan agar shalat tarawih
dikerjakan dengan berjamaah, tidak scorang-seorang saja. Dan beliau berpendapat
bahwa hal itu adalah “bid’ah yang baik”. Tersebut dalam kitab Al Muwatha’,
karya Imam Malik, halaman 138 begini :
Dari Malik dari Yazid bin Ruman, ia
berkata : “Adalah manusia mendirikan shalat pada zaman Umar bin Khathab
sebanyak 23 raka’at.” (H.Riwayat Imam Malik dalam Kitab Al Muwatha’ halaman 138
juz I)
Nampaklah
bahwa sahabat-sahabat Nabi ketika itu diperintah oleh Sayidina Umar untuk
mengerjakan shalat sebanyak 23 raka’at, yaitu 20 raka’at shalat tarawih dan 3
raka’at shalat witir sesudah shalat tarawih.
Disebutkan dalam kitab Imam Baihaqi
:
“Bahwasanya mereka (sahabat-sahabat)
Nabi, mendirikan shalat (tarawih) dalam bulan Ramadhan pada zaman Umar bin
Khathab Rda dengan 20 raka’at. (H. Riwayat Baihaqi – lihat Baihaqi (Sunan
al-kubra) juz II hal 466)
Nampaklah
dalam keterangan-keterangan ini bahwá sahabat-sahabat Nabi telah (sepakat)
mendirikan salat tarawih pada masa Umat sebanyak 20 raka’at. Ijma’ Sahabat
menurut ushul fiqih adalah hujah yakni adalah dalil syariat.Inilah pokok
pangkal hitungan raka’at shalat tarawih.Sayidina Umar, seorang Sahabat Nabi
yang dipercayai Khalifah Nabi yang kedua memerintahkan 20 raka’at. ini berarti
bahwa beliau mengetahui bahwa banyaknya shalat tarawih Nabi, baik di mesjid
atau di rumah sebanyak 20 raka’at. Kalau tidak tentu Sayidina Umar tidak akan
memerintahkan begitu Ini namanya riwayat hadits dengan perbuatan. Kita ummat
Islam disuruh oleh Nabi mengikuti Sayidina Abu Bakar dan Umar. Nabi berkata :
قْتَدُوْا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِى
أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ . رَوَاهُأَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَابْنُ
مَاجَهْ
“Ikutilah dua orang sesudah saya:
yaitu Abu Bakar dan Umar”. (Hadits Riwayat Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah
— lihat Musnad Ahmad bin Hanbal V hal. 382 dan Sahih Tirmidzi XIII 129).
Dan
dalam sebuah hadits ummat Islam diperintah oleh Nabi supaya mengikut
Khalifah-Khalifah Rasyidin, beliau berkata begini :
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ
الْخُلَفَآءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ.
رَوَاهُ أَبُوْدَاوُدَ
“Maka wajib atasmu mengikut sunnah
aku dan sunnah KhalifahKhalifah Rasyidin yang diberi hidayat, sesudah aku”.
(H.R. Abu Daud dan Tirmidzi — Lihat Sunan Abu Daud IV halaman 201).
Dapat
diambil kesimpulan dari dalil-dalil di atas, bahwa hitungan raka’at shalat
tarawih adalah 20 raka’at, dan shalat witir adalah 3 raka’at, jumlahnya 23
raka’at.
Barang siapa yang tidak mengerjakan
shalat tarawih 20 raka’at rnaka ia belum dinamai melaksanakan shalat tarawih,
dan belum mengikuti jejak Sayidina Umar bin Khathab. Khalilatur-rasyidin yang
kita semuanya disuruh Nabi mengikut beliau.
Jumlah Raka’at Shalat Tarawih Menurut Ulama salaf
1. Imam Hanafi
Sebagaimana
dikatakan Imam Hanafi dalam kitab Fathul Qadir bahwa Disunnahkan kaum muslimin
berkumpul pada bulan Ramadhan sesudah Isya’, lalu mereka shalat bersama imamnya
lima Tarawih (istirahat), setiap istirahat dua salam, atau dua istirahat mereka
duduk sepanjang istirahat, kemudian mereka witir (ganjil).
Walhasil,
bahwa bilangan rakaatnya 20 rakaat selain witir jumlahnya 5 istirahat dan
setiap istirahat dua salam dan setiap salam dua rakaat = 2 x 2 x 5 = 20 rakaat.
2. Imam Maliki
Dalam
kitab Al-Mudawwanah al Kubro, Imam Malik berkata, Amir Mukminin mengutus utusan
kepadaku dan dia ingin mengurangi Qiyam Ramadhan yang dilakukan umat di Madinah.
Lalu Ibnu Qasim (perawi madzhab Malik) berkata “Tarawih itu 39 rakaat termasuk
witir, 36 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir” lalu Imam Malik berkata “Maka saya
melarangnya mengurangi dari itu sedikitpun“. Aku berkata kepadanya, “inilah
yang kudapati orang-orang melakukannya”, yaitu perkara lama yang masih
dilakukan umat.
Dari
kitab Al-muwaththa’, dari Muhammad bin Yusuf dari al-Saib bin Yazid bahwa Imam
Malik berkata, “Umar bin Khattab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim al-Dari
untuk shalat bersama umat 11 rakaat”. Dia berkata “bacaan surahnya
panjang-panjang” sehingga kita terpaksa berpegangan tongkat karena lama-nya
berdiri dan kita baru selesai menjelang fajar menyingsing. Melalui Yazid bin
Ruman dia berkata, “Orang-orang melakukan shalat pada masa Umar bin al-Khattab
di bulan Ramadhan 23 rakaat”.
Imam
Malik meriwayatkan juga melalui Yazid bin Khasifah dari al-Saib bin Yazid ialah
20 rakaat. Ini dilaksanakan tanpa wiitr. Juga diriwayatkan dari Imam Malik 46
rakaat 3 witir. Inilah yang masyhur dari Imam Malik.
3. Imam as-Syafi’i
Imam
Syafi’i menjelaskan dalam kitabnya Al-Umm, “bahwa shalat malam bulan Ramadhan
itu, secara sendirian itu lebih aku sukai, dan saya melihat umat di madinah
melaksanakan 39 rakaat, tetapi saya lebih suka 20 rakaat, karena itu
diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab. Demikian pula umat melakukannya di
makkah dan mereka witir 3 rakaat.
Lalu
beliau menjelaskan dalam Syarah al-Manhaj yang menjadi pegangan pengikut
Syafi’iyah di Al-Azhar al-Syarif, Kairo Mesir bahwa shalat Tarawih dilakukan 20
rakaat dengan 10 salam dan witir 3 rakaat di setiap malam Ramadhan.
4. Imam Hambali
Imam
Hambali menjelaskan dalam Al-Mughni suatu masalah, ia berkata, “shalat malam
Ramadhan itu 20 rakaat, yakni shalat Tarawih”, sampai mengatakan, “yang
terpilih bagi Abu Abdillah (Ahmad Muhammad bin Hanbal) mengenai Tarawih adalah
20 rakaat”.
Menurut
Imam Hanbali bahwa Khalifah Umar ra, setelah kaum muslimin dikumpulkan
(berjamaah) bersama Ubay bin Ka’ab, dia shalat bersama mereka 20 rakaat. Dan
al-Hasan bercerita bahwa Umar mengumpulkan kaum muslimin melalui Ubay bin
Ka’ab, lalu dia shalat bersama mereka 20 rakaat dan tidak memanjangkan shalat
bersama mereka kecuali pada separo sisanya. Maka 10 hari terakhir Ubay
tertinggal lalu shalat dirumahnya maka mereka mengatakan, “Ubay lari”,
diriwayatkan oleh Abu Dawud dan as-Saib bin Yazid.
5.Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani
Al
Imam Ibnu Hajar Al Asqolani menjelaskan Hadits tentang Tarawihnya Khalifah
Umar, dalam kitabnya Fathul Bari, beliau menulis :
” Penyempurnaan : Tidak ada
penyebutan dalam riwayat ini berapa Rakaat shalat yang dilakukan Ubay Bin
Ka’ab, dan para salaf berselisih atas hal ini, di dalam kitab Al Muwatho’ dari
Muhammad bin Yusuf dari Assaib bin Yazid bahwasanya sholatnya 11 rakaat, dan
meriwayatkan Sa’id bin Manshur Dari jalur yang lain dan menambahkan dalam
riwayat itu ” Mereka para sahabat membaca 200 an ayat dan berpegang pada
tongkat karena lamanya berdiri “, dan meriwayatkan Muhammad bin Nashr Al
Marwazi dari jalan Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Yusuf, berkata : 13
rakaat, dan meriwayatkan Abdurrozaq dari jalan yang lain dari Muhammad bin
Yusuf, berkata 21 rakaat, dan meriwayatkan Malik dari jalan Yazid bin
Khushaifah dari Assa’ib bin yazid 20 rakaat, dan ini di asumsikan selain witir.
Dan
dari Yazid bin Rouman berkata ” Para Manusia sholat tarawih di zaman Umar
dengan 23 rakaat, dan meriwayatkan Muhammad bin Nashr dari jalur Atho’, berkata
: Aku mendapati para sahabat di bulan Ramadhan sholat 23 rakaat dan 3 witir.
Dan banyaknya riwayat-riwayat ini adalah adalah hal yang Mungkin, karena
berbeda-bedanya haliyah (keadaan), dan di kompromikan bahwasanya perbedaan
riwayat ini memandang dari panjang dan pendeknya bacaan, maka ketika bacaanya
panjang maka sedikit rakaatnya dan sebaliknya. Dan pendapat ini di kuatkan Al
Dawadi dan yang lain. Hitungan Rakaat yang awal (11 rakaat) ini mencocoki
hadits A’isyah, dan pendapat ke dua (13 rakaat) mendekati hadits itu juga. Dan
perbedaan riwayat jumlah rakaat yang melebihi 20 rakaat, maka kembali kepada
perbedaan rakaat witir, karena sesungguhnya terkadang witir itu dilakukan 1
rakaat kadang 3 rakaat. Dan meriwayatkan Muhammad bin Nashr dari jalur Dawud
bin Qois berkata : Aku mendapati para manusia di masa pemerintahan Aban bin
Utsman dan Umar bin Abdul Aziz -yakni di madinah- mereka shalat dengan 36
rakaat dan 3 rakaat witir, dan berkata Imam Malik hal itu adalah perkara yang
terdahulu bagi kami. Dan dari Azza’faroni dari Asyafi’i, berkata : Aku melihat
orang-orang di madinah sholat dengan 39 rakaat dan di Makkah 23 rakaat. Dan
dari Asyafi’i : Apabila memanjangkan berdiri (bacaan) dan menyedikitkan sujud
(rakaat), maka hal itu bagus, dan apabila memperbanyak sujud (rakaat) dan
memperingan bacaan, itu juga bagus. Tapi yang awal lebih aku sukai.
6. Imam Tirmidzi
Berkata
Attirmidzi : pendapat yang terbanyak di katakan dalam jumlah rakaat tarawih
adalah 41 rakaat -yakni dengan witir-. Dan menuqil dari Ibnu Abdil Bar dari Al
Aswad bin Yazid : Tarawih di kerjakan 40 rakaat dengan 7 rakaat witir, dan
dikatakan 38 rakaat, seperti yang telah di tuturkan Muhammad bin Nashr dari
Ibnu Aiman dari Imam Malik “. ( Fathul Bari Syarah Shohih Bukhori Juz 4 hal 253
Bab Kitabus Shalati Tarawih cet Dar Al Ma’rifah ).
7.Imam Ibnu Taymiyah
beliau menulis: “Telah diterima bahwa Ubay Ibn Ka´b
biasa mengimami sembahyang untuk jamaah dengan 20 rakaat di bulan ramadlan dan3
rakaat witir. Dari sini, para ulama bersepakat 20 rakaat sebagai sunnat karena
Ubay biasa mengimami jamaah yang terdiri atas Muhajirin dan Anshar dan tidak
seorangpun di antara mereka menolaknya.” (Fataawa Ibn Taymiyyah hal.112)
8.Imam Nawawi
Berkata
Imam Nawawi dalam kitab “AI Majmu” syarah Al Mahazab begini:
“Dalam Madzhab kita Tarawih itu 20
raka’at dengan 10 salam, selain Witir”. (Al Majmu’ IV hal. 32).
9.Imam Syarbini
Berkata
Imam Syarbini al Khathib: “Dan tarawih itu 20 raka’at dengan 10 salam tiap-tiap
bulan Ramadhan, demikian hadits Baihaqi dengan sanad yang sahih, bahwasanya
sahabat sahabat Nabi mendirikan shalat pada masa Umar bin Khatab dalam bulan
Ramadhan sebanyak 20 rakaat, clan merawikan Imam Malik dalam kitab al Muwatha’
sebanyak 23 raka’at, tetapi Imam Baihaqi mengatakan bahwa yang tiga raka’at
yang akhir ialah shalat witir.
(Mughni al Muhtaj, juzu’ I, halaman
226).
10.Imam Jalaluddin Al-Mahalli
Berkata
Imam Jalaluddin al Mahalli : “Dan merawikan Imam Baihaqi dengan sanad yang
sahih seperti yang dikatakan dalam syarah Muhazzab, bahwasanya Sahabat-sahabat
Nabi shalat pada masa Umar bin Khathah sebanyak 20 raka’at”. (Al Mahalli, juzu’
I, halaman 217).
11.Imam Sayd Bakri
Berkata
Imam Sayd Bakri Syatha : “Dan shalat tarawih itu 20 raka’at dengan 10 salam,
tiap-tiap malam bulan Ramadhan karena hadits Nabi “Barang siapa shalat di dalam
bulan Ramadhan didorong oleh iman dan karena Allah semata-mata diampuni
sekalian dosanya yang telah lalu. Wajib salam setiap 2 raka’at, maka jika
dishalatkan 4 raka’at dengan 1 salam tidaklah sah” (la’natut Thalibin juzu’ I,
halaman 265).
12.Imam Ramli
Berkata
Imam Ramli :“Dan shalat tarawih itu 20 raka’at dengan 10 salam, karena riwayat
yang mengatakan bahwasanya sahabat-sahabat Nabi mendirikan shalat tarawih dalam
Malam Ramadhan pada zaman Umar bin Khathab sebanyak 20 raka’at.” (Nihayatul
Muhtaj, juzu’ I, halaman 122).
13.Imam Zainuddin Al-Malibari
“Shalat
Tarawih hukumnya sunnah, 20- raka’at dan 10 salam pada setiap malam di bulan
Ramadlan. Karena ada hadits: Barangsiapa Melaksanakan (shalat Tarawih) di malam
Ramadlan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosanya yang terdahullu
diampuni. Setiap dua raka’at haru salam. Jika shalat Tarawih 4 raka’at dengan
satu kali salam maka hukumnya tidak sah……”. (Zainuddin al Malibari, Fathul
Mu’in, Bairut: Daral Fikr, juz I, h. 360).
Shalat
di Masjidil Haram, Makah. Di sana, 23 rakaat diselesaikan dalam waktu kira-kira
90-120 menit. Surat yang dibaca imam ialah ayat -ayat suci Al-Qur’an dari awal,
terus berurutan menuju akhir Al-Qur’an. Setiap malam harus diselesaikan
kira-kira 1 juz lebih, dengan diperkirakan pada tanggal 29 Ramadhan (dulu
setiap tanggal 27 Ramadhan) sudah khatam. Pada malam ke 29 Ramadhan itulah ada
tradisi khataman Al-Qur’an dalam shalat Tarawih di Masjidil Haram.
Bahkan, di rakaat terakhir imam
memanjatkan doa yangmenurut ukuran orang Indonesia sangat panjang sebab doa itu
bisa sampai15 menit, doa yang langka dilakukan seorang kiai dengan waktu
sepanjangitu, meski di luar shalat sekalipun.Dan terpapar di kitab Shalat
al-Tarawih fi Masjid al-Haram bahwashalat Tarawih di Masjidil Haram sejak masa
Rasulullah, Abu Bakar,Umar, Usman, dan seterusnya sampai sekarang selalu
dilakukan 20 rakaatdan 3 rakaat Witir.
Pada
kesimpulannya, bahwa pendapat yang unggul tentang jumlah raka’at shalat tarawih
adalah 20 raka’at + raka’at witir jumlahnya 23 raka’at. Akan tetapi jika ada
yang melaksanakan shalat tarawih 8 raka’at + 3 withir jumlahnya 11 raka’at
tidak berarti menyalahi Islam. Sebab perbedaan ini hanya masalah furu’iyyah
bukan masalah aqidah tidak perla dipertentangkan.
Wallahu a’lam bi al-shawab.

BETUL SEKALI
BalasHapusya betul lah nyo...
BalasHapus